Si Kidal Bernama Ellyas Pical

Ellyas Pical

Mau tak mau kita harus mengakui jika prestasi olahraga Indonesia menurun beberapa tahun ini. Salah satunya adalah peringkat kita di ajang Sea Games 2015 kemarin yang harus puas di posisi lima.  Namun jika kita coba menengok ke beberapa tahu silam, sebenarnya atlet-atlet kita pun pernah berjaya. Tak hanya di level Asia Tenggara, bahkan Asia hingga dunia pun atlet Indonesia pernah menjadi raja.

Pastinya kita masih ingat akan kiprah Susi Susanti dan Alan Budikusuma. Dua sejoli yang sukses mengawinkan gelar juara bulutangkis di Olimpiade Barcelona tahun 1992. Atau ketika di Olimpiade Seoul 1988 kita juga punya Mardi Lestari. Pelari yang kala itu dijuluki sebagai manusia tercepat di Asia.

Nah, dari olahraga tinju ada beberapa jawara pula yang kita punya. Jika selama ini publik lebih mengenal nama Chris John. Generasi 80 hingga 90-an pastinya lebih dulu mengenal sosok yang satu ini. Media menjulukinya sebagai The Exocet, sebab memiliki pukulan kidal secepat rudal Exocet buatan Perancis. Orang Indonesia pertama yang  menasbihkan diri sebagai  juara dunia. Siapa petinju itu? Dialah Ellyas Pical, juara dunia tinju asal Saparua.

Ketika kecil dulu saya tak  tahu saat kapan pertama Pical merebut sabuk juara dunia. Saya cuma tahu jika saat itu Pical adalah juara dunia yang dibangga Indonesia. Kakek saya mengatakan jika Pical merebut juara dunia setelah memukul KO Ju-Do Chun, seorang petinju asal Korea.

Pical seakan menjadi magnet perhatian di setiap penampilannya. Ketika Pical muncul di televisi, seketika itu pula jalanan mendadak sepi.  Orang-orang lebih memilih bergerombol di depan televisi agar bisa menyaksikan pukulan kidal dari petinju kesayangan. "Pokoe lek wis kenek kacere, akeh rubuhe musuhe" . Komentar itulah yang sering saya dengar dari orang-orang dewasa yang saat itu menonton Pical bareng saya. "Pokoknya jika kena tangan kidalnya, kemungkinan besar akan roboh lawannya !"

Ellyas Pical lahir di Ullath, Saparua. Dalam sebuah wawancara di televisi, Pical mengaku terinspirasi akan sosok Muhammad Ali yang sering dia lihat di TVRI. Pical pun akhirnya menggeluti tinju sejak usia 13 tahun. Karirnya dimulai dari tinju amatir. Perlahan namun pasti dia meraih juara di berbagai kejuaraan. Baik dari tingkat kabupaten hingga piala presiden.

Ketika berkarir di tinju profesional, Pical meraih prestasi internasional pertamanya saat mengalahkan petinju Korea Selatan, Hee-Yun Jung. Pical meraih kemenangan angka sekaligus menjadi juara kelas super bantam versi OPBF. Hebatnya prestasi itu dia raih tidak di kandangnya sendiri, tapi di negara lawannya, yaitu Seoul Korea.

Secepat laju rudal Exocet, secepat itu pula pukulan kidal Pical. Pun demikian dengan prestasinya. Di tahun 1985 Pical berhasil memukul KO juara IBF Super Terbang asal Korea, Ju-Do Chun. Ya, sejarah saat itu telah ditorehkan. Pical menjadi orang pertama Indonesia yang menjadi juara tinju dunia.

Ellyas Pical

Pical sempat kehilangan gelarnya di tahun 1986 dari petinju Republik Dominika, Cesar Polanco. Lewat pertandingan yang digelar di Jakarta, Pical dinyatakan kalah angka. Seingat saya pertandingan ini digelar ketika saya masih kelas 1 SD. Saya sedikit ingat kala itu para tetangga bahkan mungkin seluruh rakyat Indonesia merasa sedih dengan kekalahan Pical. Mereka seakan tak percaya jika petinju kebanggaannya harus kalah angka dari petinju Dominika. Untungnya beberapa bulan kemudian Pical mampu membalas kekalahannya. The Exocet menghempaskan Polanco di ronde ketiga, sekaligus meraih kembali sabuk juara dari tangannya.

Setelah mempertahankan gelar dengan memukul KO Dong-Chun Lee. Pical harus melakoni pertandingan yang begitu berat ketika harus melawan juara tinju versi WBA asal Thailand, Khaosai Galaxy. Nah, di pertandingan inilah saya masih ingat betul betapa perkasanya Galaxy saat itu. Banyak orang yang mengatakan jika Galaxy bukanlah lawan yang sepadan bagi Pical. Hasilnya? Pical harus merelakan sabuk juaranya lepas karena kalah TKO di ronde 14.

Di dua pertandingan selepas kalah dari Galaxy, Pical kembali merebut juara dari petinju Korea, Tae-Il Chang. Kira-kira dua tahun lamanya sabuk juara tersebut Pical pertahankan. Begitu berat bagi Pical, sebab seiring waktu pukulan kidalnya sudah tak seampuh dulu kala. Tiga pertandingan harus dia lalui cuma dengan kemenangan angka. Puncaknya di bulan Oktober 1989 Pical harus rela melepas sabuk juara selamanya. Pada laga yang digelar di Amerika Serikat, Pical kalah angka dari petinju Kolombia, Juan Polo Perez.

Jadulovers, itulah sekilas nostalgia tentang Ellyas Pical. Juara dunia yang dulu begitu disanjung sebab pukulan kidal yang dia miliki. Sekarang dia harus kembali berjibaku sebagai pegawai honorer di kantor KONI. Seorang penyelam pencari mutiara asal Saparua yang hanya tamatan SD, tapi lewat kerja keras dia mampu membuat berjuta pasang mata menjadi bangga sebagai orang Indonesia.


gambar : pustakadigitalindonesia.blogspot.com, tendangnews.blogspot.com

2 komentar:

  1. kuat juga memore ingatanmu..

    aku dulu sering lihatnya Susi sama Alan,, tapi pun tak banyak yang diingat..

    BalasHapus
  2. iya yu do cun,
    itu sampai ada lagunya dari bimbo ttg eliyas pical..

    BalasHapus