Dolanan Gedebog


Jaman dulu mainan anak-anak tidaklah sebanyak dan secanggih seperti sekarang. Mungkin hanya gamewatch gimbot saja yang kala itu bisa dibilang sebagai mainan canggih di masanya. Mainan modern yang hanya dimiliki oleh segelintir anak-anak  di kampung saya. Permainan individu yang begitu didamba, tapi justru membuat sebagian besar anak-anak kecil lainnya cuma gigit jari saja. Ya, tak bisa turut memainkannya. Hanya menjadi seorang penonton ketika temannya yang lebih berpunya sedang memainkan gimbotnya.

Kondisi seperti itulah yang justru membuat anak-anak di kampung menjadi kreatif menciptakan dunianya. Tentang bagaimana cara untuk bersenang-senang tanpa harus mengeluarkan uang. Tentang cara berkreasi dengan menciptakan permainan sendiri. Membuat aneka dolanan dengan bahan yang mudah ditemukan di kiri kanan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan pohon pisang.

Seingat saya dulu pohon pisang banyak ditemukan di kampung. Pohon pisang banyak ditanam warga di pekarangannya, termasuk rumah saya. Pohon pisang yang telah ditebang seakan menjadi tanda bagi anak-anak kampung untuk segera bersenang-senang. Ya, akan ada pesta pora setelahnya. Waktunya kami bersuka ria dengan memanfaatkan pohon pisang tumbang yang ditinggalkan pemiliknya.

Begitu sederhana, tapi minim resiko dan masalah yang ditimbulkannya. Tiada terdengar seorang emak marah di depan anaknya yang tengah menengadah. Ya marah, sebab anaknya telah kecanduan dengan game online di warnet sebelah. Resikonya paling-paling jari terluka oleh pisau sendiri ketika membuat mainan-mainan kami. Yang paling parah mungkin hanya emak yang marah sebab baju anaknya dipenuhi getah. Itu saja.


  • Pedang-pedangan
Permainan ini termasuk yang paling mudah membuat bahan peraganya. Cuma butuh batang dari daun pisang. Lalu dipotong dua bagian. Satu panjang dan satunya seukuran lebar jemari. Setelahnya kita tinggal masukkan batang yang lebih panjang tadi ke batang lainnya yang telah kita lobangi tengahnya. Lalu jadilah sebilah pedang menurut versi kami.

Setelah itu kami tinggal beraksi dengan gaya dan pedang-pedang kami. Ketika itu penampilan yang paling digemari adalah bergaya ala ninja, atau yang oleh kami biasa disebut linja. Menggunakan kain sarung sebagai penutup muka ala ninja. Lengkap pula dengan senjata yang kami selipkan di punggung. Sebilah pedang batang pisang yang akan terhunus ketika lawan menyerang.




  • Montor-montoran

Mainan dari bahan pohon pisang  adalah yang paling digemari anak-anak di kampung. Di sini kami bisa berkreasi dengan sesuka hati. Membuat dan memodifikasi mobil mainan dengan imajinasi liar kami.

Jika mobil telah jadi, permainan akan beralih di jalanan. Mengadu mobil-mobil buatan kami. Mobil yang paling keren belum tentu akan menjadi jawaranya. Sebab laju mobil tak ditentukan oleh penampilannya, tlpi siapa sang pengendali tali kekangnya. Yang paling kencang berlari sembari menarik mobilnya, itulah yang menjadi sang jawara.

Jika telah bosan dengan balapan, biasanya permainan diakhiri dengan adu kekuatan mobil kami dengan cara saling ditabrakkan. Mobil yang paling banyak menyisakan onderdil macam roda, itulah yang akan jadi pemenangnya.


  • Jaran-jaranan
Konsepnya hampir sama dengan montor-montoran. Kali ini bukan mobil lagi yang digunakan untuk balapan, tapi kuda yang juga kita buat dari batang daun pisang. Sama seperti montor-montoran, pemenang bukan ditentukan dari kuda pacuannya. Namun siapa yang berlari lebih kencang ketika menunggangi kuda pacuan mainanannya.




  • Dodol-dodolan
budiboga.blogspot.com
Tak hanya anak lelaki saja yang berpesta pora. Anak perempuan pun juga turut bersenang-senang memanfaatkan pohon pisang. Mereka biasanya memanfaatkan bunga pisang atau yang biasa disebut ontong untuk permainan. Dodol-dodolan biasa begitu kami menyebutnya. Menggunakan bagian-bagian dari bunga dan batang pohon pisang sebagai bahan dagangan di permainan mereka.

Saya masih teringat dulu anak-anak perempuan suka menjual menu sego pecel di warung imajinernya. Pasir disimbolkan sebagai nasi. Tahu, dendeng, udang dan aneka lauk pauk semua tersedia. Menu yang begitu murah namun istimewa, sebab saya cuma membelinya dengan dua helai daun beluntas saja.


  • Bedil-bedilan
Permainan selanjutnya adalah perang-perangan dengan menggunakan senjata mainan dari batang daun pisang. Permainan ini sekarang jarang lagi kita temui. Ya, tak lagi kita jumpai anak-anak kecil yang bersiap dengan bedil pisangnya di bahunya. Bergaya ala rambo, lengkap dengan asduk merah putih yang terikat di kepalanya. Laskar kecil dengan coretan arang di wajahnya, yang tak segan melakukan tiarap ketika lawan menyerang mereka.


  • Serangan
reka nostalgia oleh model dewasa
Permainan yang satu ini bisa dibilang sedikit ekstrim. Meski sebenarnya adalah hal yang biasa kami lakukan di kampung dulu. Permainan berkelompok dengan cara menyerang satu sama lain. Menyerang dengan menggunakan amunisi granat berupa batang daun pisang.

Di permainan ini biasanya akan mempertemukan anak-anak antar kampung. Sedikit ekstrim sebab menjurus ke kontak fisik. Namun nyaris tiada pernah ada baku hantam, sebab kami menyadari ini hanyalah permainan. Bahkan ada semacam aturan tak tertulis untuk tak melempar bagian kepala yang harus ditaati semua pemainnya. Jika tidak patuh? Segera bersiap saja teman-teman mereka akan menjauh.

Serunya permainan ini adalah akan memunculkan pahlawan-pahlawan baru di kelompok kami. Yah, anggota yang dikenal lihai ketika mengelak dari lemparan granat batang pisang lawannya. Berlari, mengelak, tiarap bahkan salto pun akan dilakukan untuk menghindari lemparan lawan. Dan... bisa ditebak akhirnya. Jalanan yang dijadikan medan pertempuran akan dipenuhi sisa-sisa amunisi dan granat batang daun pisang yang ditinggalkan.


  • Nginthir gedebog
Ketika permainan serangan usai dilakukan, biasanya akan diakhiri dengan prosesi mandi di kali. Tidak ada lagi kelompok yang berhadap-hadapan. Sekarang semua adalah teman yang bahu membahu menggotong batang besar pohong pisang. Ya, batang pohon pisang yang nanti akan mereka larungkan di kali. Bermain ciprat air bersama-sama. Mandi di kali tuk menghilangkan keringat dan peluh usai pertempuran serangan tadi. Menaiki gedebog secara bergantian yang mereka usung bersama-sama. Melupakan jika sebelumnya mereka adalah seteru yang saling menyerang di jalanan.


Jadulovers, itulah beberapa dolanan dan permainan dari batang pohong pisang yang dulu sering dimainkan. Dolanan atau permainan yang sekarang sudah langka atau tidak lagi kita temukan. Masa di mana anak kecil masih belum mengenal gadget, internet atau game online. Masa di mana kecanggihan dan modernisasi belum begitu menyentuh dunia permainan mereka sehari-hari. Namun mereka lebih beruntung, sebab setidaknya mereka telah mampu berimajinasi menciptakan dunianya sendiri. Dunia kecil yang begitu sederhana yang tak menghamba pada uang yang mereka pungut dari orang tua. Dunia imajinasi lewat sesuatu yang dianggap tak berguna lagi. Namun justru memberi mereka sebuah kesenangan yang tak bisa dibeli dengan materi.

Ya, lewat batang-batang pohon pisang itu mereka bisa belajar banyak hal. Tentang kreatifitas, kemandirian, kekompakan, ketangkasan dan juga tentang perdamaian. Begitu sederhana, tapi lewat kesederhanaan itu mereka ternyata mampu menciptakan dunia mereka yang baru.


"Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa"

11 komentar:

  1. Tembaaaaakkkk Doooaarrrrr

    Ah kebayang neh masa kecil ha ha
    Semoga menang Uncle :)

    BalasHapus
  2. asik bener gayanya.. tetep perlu imajinasi saat merakit senjata. Dan melihat hasilnya, widih itu senjata api laras panjang yang menakutkan hahaha

    BalasHapus
  3. debog jadi mainan favorit jaman dulu ya uncle. bikin rak2an, bikin dagangan dll dari tebog terus jadilah Toko ala ala bocah :)

    BalasHapus
  4. Ya ampun..itu reka nostalgianya :D :D
    itu kayaknya mau keker kata kunci yang lagi ngehits deh hihihihi

    sukses GAnya yaa, uncle ;)

    BalasHapus
  5. nostalgia ini ceritanya... dulu sering banget dibuatin mbah mainan tembak-tembakan dari gedebog pisang yang daunnya dipakai buat bungkus nasi.

    BalasHapus
  6. pasirnya juga di makan juga gak uncle? hehehe wuih tentara yang pegang bedilnya keren bener.

    BalasHapus
  7. Aku koq kayak kenal itu ya model dewasanya hihihii... Debog pisangnya diiris / disayat2 dikit, trus ditarik barengan sampe bunyi krataaaaakk....seru tuh

    BalasHapus
  8. Dulu mah batang pisang aja bisa jadi aneka rupa mainan yaa.. makin terbatas makin kreatif :D

    BalasHapus
  9. Permainan khas cowok yg buat bedil dr gedebog. :D

    BalasHapus
  10. Waw ternyata batang daun pisang dapat dijakan berbagai macam permainan, keren dan kreatif sekali :)

    BalasHapus